10 CARA CERDAS MENDIDIK ANAK

Sebagai orang tua yang selalu sibuk dengan rutinitas kerja yang padat. Membuat waktu kita sangat terbatas untuk anak kita. Padahal inginnya kita bisa terus menerus dekat dengan si buah hati. tapi kira-kira bisa ngga ya waktu kita yang terbatas itu menjadi berkualitas ? dan … mungkin ngga ya kita bisa menjadi orantua yang efektif ? Menurut psikolog selama kita bisa memanfaatkan waktu , orang tua yang sibuk pasti tetap bisa membesarkan anaknya dengan baik. Karena belum tentu juga anak yang orangtuanya mempunyai seratus persen waktu di rumah, bisa memiliki kualitas fisik, jiwa dan psikologis yang lebih baik dibandingkan anak yang orangtuanya banyak waktunya habis di tempat kerja. Karena tumbuh kembang anak tidak bergantung pada lama waktu alias kuantitas orang tua bersama anaknya. Tetapi lebih kepada kualitasnya. Ibu yang setiap hari di rumah, tapi tidak terlalu care pada tumbuh kembang anaknya, misalnya ibu asyik menonton televisi sendiri, sementara anaknya dibiarkan bermain sendiri tanpa bimbingan darinya. Tidak akan sebanding dengan ibu yang bekerja namun memanfaatkan waktunya yang terbatas secara maksimal untuk mengikuti dan membimbing tumbuh kembang anaknya. Siapapun pasti ingin bisa menjadi orang tua yang baik. Dan untuk menjadi orang tua memang butuh belajar. Namun sayangnya, sekolah untuk menjadi orang tua belum ada. Bagaimana sebaiknya memanfaatkan waktu menjadi orang tua dengan efektif ? berikut tipsnya.

1. Dekati anak, pahami karakternya

Orangtua yang baik berusaha memahami karakter anaknya. Ada anak yang sejak awal menunjukan karakter pemalu, periang. Introvert, extrovert atau penuh percaya diri. Sebaiknya perlakukan mereka sesuai dengan karakternya, dan jangan memaksakan anak untuk menjalani karakter lain. Atau memaksanya melakukan sesuatu yang dia belum merasa siap. Misalnya memaksa anak yang pemalu untuk maju ke panggung, sementara dia belum siap. Orang tua dan guru hanya bisa menyiapkan mentalnya, namun yang bertarung mempersiapkan mental itu adalah anak itu sendiri. Daripada ‘berkelahi’ dengan anak di belakang panggung. Lebih baik beri dia waktu untuk mengelola perasaan. Di kesempatan lain, dia mungkin jadi lebih berani. Jika dipaksa, anak bisa terbebani dan stress. Waktu serta tenaga yang anda berikan pun terbuang percuma. Untuk memahami anak, anda tentu harus dekat dengan mereka. Dan menjadikan diri anda sebagai orang dekat hingga jadi tempat curhat juga perlu trik. Jika anak sedang bermasalah, berikan rasa empati dan perhatian. Tunjukan bahwa anda peduli dan ingin dia kembali ceria. Jika karakter anak anda tertutup jangan paksa dia untuk segera to the point menceritakan masalahnya. Anak malah semakin bungkam. Dekati sedikit demi sedikit, ajak dia ngobrol dari hati ke hati, dari situ anda bisa masuk ke pokok masalnya. Meski sibuk, jadilah pendengar yang aktif. Jangan pura-pura mendengarkan padahal tidak dan masih bekerja. Alihkan konsentrasi ke dia atau minta untuk menunda pembicaraan sesaat lagi.

2. POSITIVE PARENTING

Terapkan positive parenting yaitu menghargai setiap perilaku baik anak sebanyak-banyaknya dan usahakan untk menghukumnya sesedikit mungkin. Jika anak melakukan kesalahan, jangan langsung dimarahi. Tapi gali alasan dia melakukannya, serta ajak dia berpikir apakah itu baik atau tidak. Bersikaplah tenang, karena pada dasarnya setiap perilaku anak adalah proses menemukan jatidiri atau identitas dirinya. Dengan cara ini, anak mengerti dan anda bebas stress. Anak usia satu sampai dua tahun adalah usia yang segala perilakunya msaih bersifat eksplorasi. Maka berikanlah kesempatan itu, karena ini sangat bermanfaat untuk perkembangan otaknya.

3. LIBATKAN DAN AJAK DISKUSI

Ingin anak yang pemberani dan punya sifat memimpin ? libatkan dalam diskusi keluarga, dengarkan dan hargai pendapatnya. Lakukan itu sejak dia kecil, agar ingatan itu tertancap di memorinya. Diskusikan banyak hal dengannya mulai dari memilih makanan, baju, berwisata ke mana, sampai sekolahnya sendiri. Hal ini penting untuk membentuk rasa percaya dirinya. Dengan kebiasaan ini, anak juga akan terbiasa dengan penyelesaian masalah secara demokratis. Mulailah melibatkan mereka ke dalam tugas-tugas rumah tangga sehari-hari, tentunya dengan menyesuaikan dengan usianya mereka. Anak biasanya akan merasa senang, jika ia merasa dibutuhkan oleh orang lain dan berguna bagi orang lain.

4. MANFAATKAN SETIAP KESEMPATAN

Jika anda adalah orangtua bekerja, maka pintar-pintarlah mempergunakan kesempatan terbatas untuk berkomunikasi dengan anak anda seefektif mungkin. Sambil bercanda, usahakan mendapatkan pembicaaan yang ‘berisi’. Misalnya, ajaklah anak mengobrol dengan santai tentang berbagai hal ketika anda mengantar dia ke sekolah. Gunakan juga kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai positif ketika anda menemani dia menonton televise. Mengajak diskusi selalu bisa diawali dengan pertanyaan-pertanyaan yang unik danmungkin bikin dia geli. Missal.” Nak, kenapa ya manusia itu kadang-kadang sakit? Apa kuman itu juga bisa sakit ya ?”

5. SEDIAKAN WAKTU KHUSUS

Meluangkan waktu khusus untuk berdua dengan anak merupakan hal yang penting untuk menumbuhkan ikatan batin antara anda dan anak. Manfaatkan kesempatan berdua untuk memahami dan mendekatkan diri dengan anak. Anda bisa memanfaatkan waktu tersebut mulai dari saat membangunkan atau mengantarkannya tidur, bermain bersama, menonton televisi bersama, pergi bersama ke tempat-tempat menarik, dan banyak lagi. Usahakan setiap hari ada waktu khusus untuk setiap anak. Akan lebih baik jika waktu libur dimanfaatkan untuk bersama keluarga.

6. TEGAKKAN DISIPLIN

Jika anak sedari kecil dibiasakan untuk disiplin, maka dia akan menjadi pribadi yang teratur setelah dewasa. Terapkan mulai dari hal-hal yang kecil. gosok gigi, cuci kaki, merapikan tempat tidur setelah bangun pagi, sangat baik untuk membiasakan hidup mereka lebih teratur setelah dewasa. Terapkan disiplin secara konsisten. Jika anak melalaikannya, tidak ada salahnya anda memberikan sanski. Tak perlu sambil marah-marah, malah bagus jika anda dan anak melakukannya sambil tertawa. Berikan sanksi yang bersifat mendidik, misalnya menyuruhnya untuk mengerjakan tugas rumah dan perlu diingat. Jangan berikan sanksi di beberapa kelalaian pertamanya. Berikan jika anak berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama.

7. BERILAH CONTOH YANG BAIK

Anak adalah peniru ulung, maka berhati-hatilah dalam bertingkah laku dan menjalankan kebiasaan. Anak usia emas (0-5 Tahun) memiliki daya ingat yang sangat kuat, jadi apapun yang anda lakukan bisa menjadi modalnya dalam berprilaku di saat dewasa. Dia belajar berprilaku melalui pengamatannya pada perilaku orang tuanya. Maka berperilakulah yang baik dan hindarkan kata-kata kotor, karena apa yang kita ucapkan dan kita lakukan merupakan modal bagi anak kita dalam berperilaku dan berucap.

8. UNGKAPKAN KASIH SAYANG

Setiap orang tua pasti menyayangi anaknya, begitu pula sebaliknya. Namun tak jarang orang tua menganggap hal itu tidak penting. Padahal, mendapatkan kasih sayang adalah hak setiap anak. Termasuk dalam bentuk verbal. Seperti ‘ mama sayang kamu’. Ini berpengaruh sangat besar kepada anak.Karena merasa diperhatikan dan disayang. Sehingga anak memiliki kedekatan emosi yang dalam terhadap orangtuanya anak juga memiliki perasaan yang halus, lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesama.Ungkapan kasih sayang dengan ucapan sayang. Belaian pelukan dan ciuman dalam setiap kesempatan.

9. KOMUNIKASI YANG EFEKTIF

Komunikasikan dengan jelas dan lembut. Ketika anda memberikan perintah kepada anak. Berikan perintah yang spesifik dengan kalimat yang jelas untuk menghindari kebingungannya. Stop memberikan ceramah, memarahi atau mengomeli anak dengan panjang lebar apalagi dengan teriak-teriak. Sebaliknya seringlah mengajak mereka berdiskusi. Jangan sekali-kali berbicara dengan keras dan kasar terhadap anak. Kalau anda tak ingin mereka meniru.

10. SAAT MARAH, ANAK JANGAN DIJADIKAN PELAMPIASAN

Perilaku anak kadang membuat orangtua kesal dan jengkel. Apalagi kalau pekerjaan dan kekalutan di kantor di bawa kerumah. Jika anda mengalami hal ini, jangan sekali-kali menjadikan anak sebagai pelampiasan kekesalan. Karena marah, anak menjadi objek omelan, luapan emosi atau bahakan sampai membuat kita tak menghiraukan dan memperhatikannya. Saat marah, control diri memang cenderung lebih rendah tapi jangan sekali-kali melampiaskannya kepada anak. Di depan mereka, tetaplah bersikap seperti biasa. Sempatkan waktu luang sejenak untuk berpikir dan introspeksi diri. Ambil napas panjang dan coba berpikir untuk mencari solusi terbaik bagi masalah anda. Satu hal yang penting : orang tua yang efektif juga butuh waktu untuk dirinya sendiri.

 

 

 

Sumber :  INSPIRASI MENDIDIK ANAK pada 9 November 2011 jam 6:24 .

http://www.facebook.com/notes/inspirasi-mendidik-anak/10-cara-cerdas-mendidik-anak/298667896818095

Iklan

BACANG

Bacang selalu menawan. Sebagai bekal sekolah atau tamasya juga tak kalah praktis. Perkaya rasanya dengan tambahan jamur hioko.

 
bahan-bahan/bumbu-bumbu :
600 gram beras , rendam 1 jam
1 sendok makan garam 
600 ml air 
30 lembar daun bambu 
air untuk merebus 

bahan isi:
2 sendok makan minyak untuk menumis 
8 butir bawang merah , cincang halus
6 siung bawang putih , cincang halus
1 buah pekak 
350 gram daging giling 
30 gram jamur hioko , rendam, iris halus panjang
30 gram biji teratai , seduh, cincang kasar
6 sendok makan saus tiram 
4 1/2 sendok makan kecap manis
1/4 sendok teh garam 
1 sendok teh merica 
1 sendok teh gula pasir 
1 sendok makan minyak wijen 
150 gram daun bawang , iris halus
750 ml air 
3 butir telur asin rebus , potong – potong

Cara Pengolahan :

  1. Isi, tumis bawang putih, bawang merah, dan pekak sampai harum. Masukkan daging giling. Aduk sampai berubah warna. Tambahkan jamur hioko, biji teratai, saus tiram, kecap manis, garam, merica, dan gula pasir. Aduk rata. Tuang air. Masak sampai mendidih. Masukkan daun bawang. Masak sampai matang. Sisihkan.
  2. Didihkan air dan garam. Masukkan beras yang sudah ditiriskan. Aduk sampai terserap.
  3. Ambil 2 atau 3 lembar daun bambu. Letakkan daun bambu yang ada lidinya saling membelakangi dan bertumpuk. Bentuk contong
  4.  Ambil beras aron. Masukkan ke dalam contong bamboo tadi. Tusuk dengan jari agar isi bisa sampai di ujung.
  5. Masukkan isi dan telur asin. Tutup lagi dengan beras aron.
  6. Tekan – tekan sehingga berbentuk segitiga. Lipat sisa daun di kiri dan di kanan ke arah tengah. Balik dan rapatkan sehingga berbentuk limas. Ikat dengan tali.
  7. Rebus 5 jam dalam air mendidih. Tiriskan sambil digantung.

Untuk 12 buah

Sumber :  http://www.sajiansedap.com/recipe/detail/10320/bacang

Sumber Gambar : http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/41817_112334918779759_1458_n.jpg

Salad Sayuran Saus Yoghurt

Bahan:
100 gr wortel, rebus, potong dadu
100 gr kacang polong
100 gr jagung manis pipilan, rebus, tiriskan
100 gr daging asap, goreng sebentar, potong-potong
60 gr timun, buang biji, potong dadu kecil
60 gr bawang bombay, cincang kasar

Saus:
100 gr yoghurt tawar/plain yoghurt
60 gr mayonaise
1 sdm air jeruk lemon/nipis
½ sdm susu kental manis putih

Cara Membuat:
1. Saus: Campur mayonaise dengan yoghurt, air jeruk lemon dan susu kental manis. Aduk rata. Dinginkan di dalam kulkas.
2. Campur semua bahan salad, aduk rata. Dinginkan di dalam kulkas.
3. Sesaat sebelum disajikan. Tuang campuran saus ke dalam bahan salad. Aduk rata. Tuang ke dalam pinggan saji. Hidangkan.

 

Untuk 8 Porsi
Tips: Agar salad tidak berair, campur saus dengan bahan salad sesaat sebelum disajikan.

Peran Pola Asuh Anak dalam Membentuk Karakter Anak

Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda” – Robert Fulghum

Berhasil mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua guru dan orang tua. Setiap guru dan orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, namun apakah pada kenyataannya semudah itu? Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik buah hati tercinta

Para guru dan orang tua, ijinkan saya bertanya kepada Anda… Pernahkan kita berpikir bahwa program negatif yang (mungkin) secara tidak sengaja kita tanamkan ke pikiran bawah sadar anak kita, akan terus mendominasi dan mengendalikan hidupnya – membuatnya jadi berantakan di masa depan? Jika mau jujur melakukan evaluasi pada diri sendiri, bisa jadi kita semua termasuk saya sebagai orang tua telah dan sedang melakukan hal ini terhadap anak-anak kita.

Mengutip apa yang diungkapkan Dorothy Law Nollte:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri

Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya

Jujur sejak saya menikah, saya beruntung sekali memiliki istri yang peduli dengan perkembangan anak kami. Kami saling mengingatkan ucapan yang keluar dari mulut kami dan sikap serta perilaku kami yang “berbahaya” bagi anak kita. Kita sadar betul anak tidak perlu diajarkan sesuatu melalui komunikasi, hanya melihat saja maka itu sudah belajar dan direkam di otaknya. Kami sangat menjaga itu.

Seperti judul diatas pola asuh adalah pendidikan karakter. Bagi kita orang tua, karakter apa yang ingin kita tanamkan pada anak kita? Berikan contoh itu dalam sikap dan perbuatan serta kata-kata. Maka dengan mudah anak akan mencontohnya dan menyimpannya dalam memory bawah sadarnya dan akan dikeluarkan kembali pada saat “ada pemicunya”. Maksudnya? Saat kita memberikan contoh hormat dan sayang pada pasangan kita, saat anak kita menikah kelak maka dia akan mencontoh perilaku kita orang tua-nya terhadap pasangannya.

Sekarang ini sangat berlaku sekali kata-kata mutiara “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya” dan itu saya rasakan betul saat banyak klien saya yang merasakan bahwa kehidupannya adalah hasil dari “fotocopy” orang tua-nya. Kalo orang tua-nya memberikan pengaruh yang baik tidak masalah, tetapi jika rumah tangga berantakan seperti orang tua-nya maka ini adalah suatu musibah. Kenapa ini terjadi? Yah, saya rasa Anda sudah tahu jawabannya bukan?

Jadilah teladan bagi buah hati tercinta kita, pada mula dan awalnya anak akan selalu belajar dari lingkungan terdekatnya, yaitu orang tua. Mereka menyerap informasi dengan baiknya dari kelima indra mereka. Bukan hanya perkataan orang tua tapi sikap serta perilaku orang tua akan mereka serap juga, bahkan secara Anda tidak sadari.

Jika kita orang tua, ingin tahu berapa nilai Anda sebagai orang tua dalam mendidik anak, ada cara mudah mengetahuinya. Raport pertama anak kita pada waktu sekolah (play group atau TK), itu adalah raport milik kita orang tua, bukan anak. Anda dapat berkaca dari hasil tersebut, bagaimana kualitas “produk” (baca: anak) Anda. Nah itu adalah raport awal saat 3-5 tahun Anda membentuk keluarga dan mendidik anak. Tapi jika mau tahu hasil akhirnya lihatlah kehidupan anak Anda ketika dia sudah berada didalam kehidupan sebenarnya. Lihatlah pergaulannya, cara berbicara dan bersikap dan jika kita orang tua lebih jeli dan bijak lihat keuangannya. Semakin baik kondisi keuangan anak Anda berbanding lurus dengan karakter yang dimiliki anak Anda (yang halal tentunya).

Sumber : http://www.pendidikankarakter.com/peran-pola-asuh-dalam-membentuk-karakter-anak/

Sumber Gambar : http://thiggs.brinkster.net/images/Family.jpg

DAFTAR HARGA NUGGET

Daftar Harga NUGGET FIESTA

Note :
* Harga tersebut diatas tidak mengikat, sewaktu-waktu dapat berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

* Harga tersebut diatas belum termasuk ongkos kirim barang.

BAHAYA PANAS DALAM

Panas dalam bukanlah penyakit, melainkan gejala dari suatu penyakit. Kondisi kelelahan, gangguan pencernaan, gangguan tenggorokan, hingga ketidakseimbangan hormon, bisa ditandai oleh rasa panas di dalam tubuh.

Panas dalam sering dikeluhkan banyak orang. Sariawan, bibir pecah-pecah, dan nyeri tenggorokan merupakan gejala khasnya. Dr. T Bahdar Johan, Sp.PD, ahli penyakit dalam dari RS Internasional Bintaro, seperti yang dikutip tabloid Senior, menyatakan, istilah panas dalam sebenarnya salah kaprah. “Dalam dunia medis tidak dikenal istilah panas dalam. Jadi panas dalam itu tidak ada. Hanya saja banyak orang telanjur menganggap gejala yang timbul sebagai tanda panas dalam,” katanya. “orang yang mengeluh terkena panas dalam itu seringkali tidak demam. Suhu tubuhnya normal ketika diukur dengan termometer,” kata Dokter Bahdar Johan.

Jadi, definisi panas dalam untuk tiap orang bisa berbeda. “Dari keluhan yang sering saya jumpai pada pasien yang terkena panas dalam, gejalanya antara lain sariawan, bibir pecah-pecah, sakit gigi, badan pegal, sakit tenggorokan, diare, badan terasa mengeluarkan panas, sensasi terbakar di dada, mimisan, hingga buang air besar disertai darah,” ujarnya. Gejala panas dalam juga bisa muncul karena ketidakseimbangan hormon. Ambil contoh perempuan yang sedang memasuki atau mengalami masa menstruasi juga bisa terkena panas dalam.

Prinsipnya mengobati panas dalam cukup mudah. Tergantung dari keluhan pasien. Jika masalahnya terdapat di lambung, obati lambungnya. Hanya saja, obat dokter biasanya hanya menghilangkan gejala. Jika ada penyakit yang mendiami tubuh dan memicu panas dalam, obat itu hanya sanggup mengurangi gejala panas dalam, bukan menghilangkan penyakit penyebabnya, sehingga panas dalam bisa terjadi berulang kali. Disarankan Anda yang mengalami panas dalam tetap waspada. Jika dalam beberapa hari tidak hilang atau reda tapi terus berulang, ada baiknya segera ke dokter.

Ada beberapa kiat mencegah panas dalam. Namun kiat ini tidak mutlak berlaku bagi semua orang karena tiap individu memiliki situasi dan kondisi tubuh yang berbeda.

1. Perhatikan jam makan.
Hal ini berlaku terutama bagi orang yang memiliki gangguan asam lambung. Telat makan bisa menimbulkan gangguan pada lambung (maag) atau naiknya asam lambung hingga ke daerah dada. Ini yang menyebabkan banyak orang merasa terkena panas dalam.

2. Perhatikan makanan terlalu panas atau dingin.
Makanan yang terlalu panas atau dingin bisa mengganggu sistem pencernaan. Sistem pencernaan manusia bekerja pada batas suhu tertentu. Panas makanan yang berlebih dapat mengganggu lapisan lendir yang melapisi saluran pencernaan. Makanan yang terlalu dingin juga akan membuat sistem pencernaan mengerut, sehingga mempersulit proses pencernaan.

3. Perhatikan menu makanan.
Makanan yang panas dan digoreng seringkali menyebabkan luka atau iritasi pada tenggorokan. Peradangan tersebut akan menyebabkan munculnya gejala panas dalam. Terlalu banyak minyak dalam makanan juga tidak baik untuk pencernaan dan tenggorokan.

4. Olahraga secara rutin.
Gejala panas dalam bisa muncul karena kelelahan. Dengan berolahraga, kondisi tubuh bisa dilatih dan terjaga lebih baik. Daya tahan atau stamina pun akan meningkat, sehingga tidak mudah terkena panas dalam ketika kondisi tubuh terlalu lelah.

5. Kelola stres.
Saat ini banyak orang yang mengeluh terkena panas dalam akibat stres. Stres dapat menurunkan daya tahan tubuh, juga mengacaukan jam makan dan hormon tubuh.

Sumber : http://my.opera.com/Kputra/blog/bahaya-panas-dalam

Pisang Arema Keju

Bahan :

• 10 lembar kulit lumpia
• 1 sisir pisang raja atau pisang uli matang
• Gula pasir secukupnya
• Keju parut secukupnya
• Minyak untuk menggoreng, secukupnya

Cara membuat:

• Kupas pisang, belah dua jika ukuran pisang besar.
• Siapkan 1 buah kulit lumpia, tata pisang diujung kulit lumpia. taburi bagian pisang dengan gula pasir dan keju parut, gulung kulit lumpia hingga menutupi semua bagian pisang. Goreng dengan api kecil hingga matang.
• Lelehkan coklat masak, hias bagian atas pisang dgn coklat leleh. Sajikan.

Sumber : http://defidi.wordpress.com/2008/03/26/camilan-anak-anak/

7 Trik Melatih Anak Merapikan Rumah

Melatih anak menjadi dewasa memang tak mudah.Tapi,cobalah melatih kedewasaaanya dengan memberikan pembagian tugas kerja merapikan rumah.Sebuah studi baru mengatakan, memberikan tugas akan membantu anak-anak menjadi bertanggung jawab dan menjadi dewasa.Penugasan bisa dimulai dengan meminta si kecil merapikan mainannya setelah selesai bermain.Dengan cara ini bisa secara otomatis melatih ketrampilan mengatur barang sekaligus melatih mereka belajar menghormati oranglain.

Menurut Charlie Taylor,Kepala Sekolah di salah satu Sekolah Dasar di AS, dan penulis buku ‘The Secrets to Having a Much Better Behaved Child’, penugasan-penugasan kecil untuk anak bisa dimulai sejak mereka berusia 3 tahun.Karena akan lebih mudah melatih mereka ketika usianya masih muda.

“Dengan cara ini bisa melatih mereka membangun rasa tanggung jawab,” katanya seperti dikutip dari mirror.co.uk life and style.Ingin membuat si kecil rajin berbenah, ini caranya:

1. Tetaplah pada rutinitas
Untuk lebih melatih tanggung jawabnya, jadikanlah tugas kecil dari Anda ini sebagai rutinitasnya. Kegiatan merapikan mainan bisa dijadikan sebuah ritual yang terjadi pada saat yang sama. Sehingga lambat laun bisa menjadi sebuah kebiasaan.

Sebagai contoh, buatlah jadwal tugas bersih-bersih atau merapikan mainan 10 menit sebelum acara TV favorit mereka dimulai. “Jadikan ini sebagai aturan ketat. Mereka mungkin berdebat dan mencoba untuk menawar, tapi sebaiknya keputusan Anda tidak mudah goyah, ” ujar Charlie.

2. Berikan pujian, bukan suap
“Jangan membayar anak-anak untuk melakukan tugas,” kata Profesor Julian Elliott dari Durham University’s School of Education. Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa tidak satupun anak akan bekerja setelah mereka diberikan bayaran. Lebih baik berikan pujian, terutama jika mereka membantu tanpa diminta, biarkan mereka bangga dengan pekerjaan dilakukan dengan baik.

3. Tunjukan cara berbenah pada si kecil
Mulailah dengan menginvestasikan waktu dan tunjukkan padanya cara melakukan tugas tersebut. “Jika Anda akan meminta seorang remaja untuk mencuci pakaian, pastikan mereka tahu bagaimana untuk memisahkan warna,” kata Judith Myers-Walls, seorang profesor perkembangan anak.

4. Adil
Pastikan Anda tidak memberi mereka terlalu banyak pekerjaan. Seimbangkan dengan waktu bermain mereka. Biarkan mereka punya rasa tanggung jawab, tapi tetap bisa mempunyai waktu bermain.

5. Membuatnya menyenangkan
Ahli perkembangan anak Braun Betsy Brown mengatakan, “Jika Anda mengatakan kepada anak berusia empat tahun: ‘Saya ingin kamu membersihkan seluruh ruangan ini’, itu tidak akan terjadi. Cobalah katakan: ‘Kamu mengambil semuanya dengan roda, dan mama akan mengambil segala sesuatu berwarna merah’. Kata-kata ini akan lebih memacu semangatnya untuk membantu Anda merapikan rumah.”

6.Mengatur tugas-tugas khusus
Dengan anak yang lebih tua, berikan tugas khusus seperti merapikan kamar tidur sendiri. Ini akan melatih tanggung jawab mereka.

7.Buat tim kerja
Bentuk keluarga sebagai sebuah tim untuk merapikan rumah. Pada awalnya anak-anak akan sering mencoba untuk berdebat. Tapi, tunjukkan pada mereka bahwa semua anggota rumah ikut merapikan rumah untuk membantu satu sama lain.

Sumber : VIVA News, http://kosmo.vivanews.com/news/read/109523-7_trik_melatih_anak_merapikan_rumah

Sumber Gambar : http://www.melindahospital.com/modul/user/images/images_artikel/Didik_anak_rapi_sejak_dini200.gif

http://www.ayahbunda.co.id/support/image.content/02/001/007/747/P

11 Aturan Dasar Membesarkan Anak

Pendidikan yang Baik

KOMPAS.com – Penonton setia acara Nanny 911 pasti tak asing dengan nama Nanny Stella. Acara ini memiliki banyak penonton karena para nanny yang terlibat harus membantu keluarga tersebut mencapai kerja sama dan mengubah kekacauan menjadi ketenangan hanya dalam waktu 7 hari.

Beberapa waktu lalu, Nanny Stella mengunjungi Jakarta untuk berbagi 11 aturan dasar (11 Commandments) dalam membesarkan anak. Aturan-aturan ini ia buat bersama salah seorang sahabatnya, Nanny Deb, yang juga ikut dalam acara tersebut. Pengalamannya selama kurang lebih 15 tahun dalam mengasuh anak, ditambah pendidikannya selama 2 tahun di National Nursery Education Board membuatnya percaya diri untuk menerbitkan 11 aturan dasar ini. Menurutnya, aturan dasar ini lintas usia, lintas negara, tidak situasional, tidak emosional, absolut, dan dibuat untuk menghindari tindakan-tindakan buruk yang bisa saja terjadi di masa mendatang.

Berikut adalah 11 aturan tersebut, yang disampaikan Nanny Stella dalam seminarnya di JITEC, Mangga Dua Square, Jakarta, Sabtu (7/12/09) lalu.

1. Bersikap konsisten
Tidak artinya tidak. Ya, artinya ya. Jika Anda ingin memberlakukan “timeout” kepada anak Anda, lakukanlah. Jangan berhenti atau membatalkan hal tersebut hanya karena ada gangguan.

2. Setiap tindakan punya konsekuensi
Tingkah laku yang baik mendapat imbalan. Tingkah laku buruk mendapat hukuman. Berikan penjelasan jika memang ada imbalan untuk sesuatu yang baik yang ia lakukan, atau hukuman jika ia melakukan kesalahan. Misal, Anda sekeluarga akan berlibur ke tempat liburan yang menyenangkan jika anak bisa meraih angka bagus di rapor. Atau, jika malas belajar, ia akan tinggal kelas.

3. Katakan seperti apa yang Anda inginkan
Berpikirlah sebelum bicara, atau rasakan akibatnya. Jika si anak pernah melanggar perintah Anda, maka hukumannya pun harus jelas, dan Anda harus melakukan hukuman tersebut. Jika Anda melanggar sistem ganjaran Anda sendiri, maka si anak akan terbiasa mengabaikan hukuman yang Anda tetapkan untuk hal-hal lain. Bersiaplah, karena hal ini akan berujung pada pembangkangan.

4. Orangtua bekerja sama sebagai satu tim
Kalau Anda dan pasangan tidak saling setuju dalam satu hal, anak Anda tidak akan tahu siapa yang harus ia dengarkan. Hasilnya, ia tak akan mendengarkan siapa pun. Ini tak hanya berlaku untuk Anda dan pasangan saja, tetapi juga untuk semua orang yang berada di tempat Anda membesarkan si anak. Entah itu pengasuh, ibu-ayah, kakek-nenek, paman-bibi, semua yang terlibat dengan si anak. Jangan sampai ada yang memiliki kata-kata yang saling bertolak belakang, karena anak bisa bingung dan malah berakibat buruk baginya.

5. Jangan berjanji jika tak bisa ditepati
Kalau Anda menjanjikan sesuatu kepada si anak, pastikan janji tersebut terpenuhi. Jika Anda tak pasti bisa memberikan janji tersebut kepada anak, lebih baik jangan dikatakan. Karena ingkar janji bisa jadi hal yang sangat menyakitkan untuk anak.

6. Dengarkan anak-anak Anda
Akui perasaan mereka. Katakan, “Ibu mengerti”, tapi ucapkan dengan sungguh-sungguh, lalu luangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan Anda. Karena mereka butuh orang yang bisa dan mau mendengarkan keluh-kesah mereka. Jika mereka bersandar kepada orang yang salah, hasilnya bisa menjadi hal yang tak benar untuknya. Cobalah untuk menjadi sahabat mereka dan dengarkan apa yang mereka rasakan. Rasakan nikmatnya menjadi orang terdekat yang mengerti mereka.

7. Tentukan rutinitas
Rutinitas membuat anak Anda merasa aman dan memberi struktur terhadap waktu yang mereka miliki. Namun tak selalu berarti harus mengikuti jadwal sesuai jam. “Rutinitas itu penting, agar anak-anak jadi tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Tak perlu berdasarkan jam, berdasarkan rutinitas juga bisa. Dengan demikian mereka belajar keteraturan. Misalnya, usai bermain di sore hari, mereka mandi, makan malam, sikat gigi, cuci kaki, lalu tidur,” ujar Nanny Stella.

8. Rasa hormat berlaku dua arah
Kalau Anda tidak menghormati anak Anda, mereka tidak akan menghormati Anda. Hukumnya “perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan”. Menghormati mereka dengan memberikan apa yang menjadi hak mereka tanpa menunda, juga mendengarkan apa yang mereka ingin katakan.

9. Penguatan positif lebih baik dari penguatan negatif
Sanjungan, pujian, dan kebanggaan jauh lebih bermanfaat daripada bersikap nyinyir, negatif, dan mengacuhkan. Lebih baik mengucapkan penguatan positif kepadanya untuk menyampaikan maksud Anda, bukan menunjuk ke suatu kata sifat yang melabeli. Misalnya, “Mama senang sekali melihat usaha kamu meningkatkan nilai Matematika kamu” lebih baik ketimbang, “Kamu pintar. Nilai Matematika kamu sudah naik 1 angka di rapor”. Ketika Anda melabeli suatu titik, ia akan berhenti di sana dan tidak berusaha untuk berkembang.

10. Tingkah laku adalah hal yang universal
Tingkah laku yang baik diterima oleh siapa pun. Contohkan padanya untuk mengucapkan “terima kasih, tolong, atau maaf” kepada orang-orang yang bersinggungan. Di mana pun, sopan-santun selalu diperlukan. Ajarkan tata krama kepadanya lewat tindakan Anda. Anak seperti kaset kosong yang merekam apa pun yang mereka lihat dari orang-orang, atau apa yang ia saksikan. Maka, berikan contoh terbaik kepadanya.

11. Definisikan peran Anda sebagai orangtua
Bukan tugas Anda untuk membuat anak menempel pada Anda. Tugas Anda adalah mempersiapkan anak untuk menghadapi dunia luar, dan membiarkannya menjadi diri sendiri. Jangan selalu menempel dan membantunya mengerjakan segala hal. Sesekali ia pun harus belajar menghadapi rasa sakit hati, rasa gagal, juga rasa tak mampu. Ini penting agar ia bisa mencari jalan untuk mengatasi keterbatasannya.

Aktifkan IQ dan EQ Anak dengan SQ

Anak Sehat dan Ceria penuh Kreativitas

Kecerdasan Akal (IQ) dan Kecerdasan Emosi (EQ) memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Tapi kadang orang sering melupakan kecerdasan lain yang sebenarnya mendasari serta mendukung ke dua kecerdasan itu (IQ dan EQ), yaitu Kecerdasan Spiritual (SQ). SQ merupakan salah satu bentuk kecerdasan yang akan menjadi fondasi utama untuk lebih mengefektifkan fungsi IQ dan EQ.

SQ merupakan bentuk kecerdasan yang bisa menempatkan kehidupan individual kita dalam konteks yang lebih luas.SQ adalah kecerdasan yang bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah makna dan nilai (problem of meaning and value).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Marsha Sinetar—seorang pendukung terkemuka nilai praktis spiritualitas—semakin mengembirakan dunia pendidikan dan psikologi, bahwa pada dasarnya, SQ juga dimiliki oleh anak-anak. Banyak anak-anak yang memiliki pancaran cahaya kesadaran dini (early awakening child). “Early awakeners” ini tetap eksis dan tumbuh dalam menghadapi berbagai rintangan dan mampu mendemonstrasikan kemampuannya untuk melampaui segala bentuk kesulitan dalam rangka “walk in truth.”

Ya, anak-anak kita adalah masa depan kita sendiri. Tentunya, kita menginginkan anak-anak kita menjadi yang terbaik bagi dirinya dan orang lain. Untuk mewujudkan impian tersebut bukanlah hal yang mudah dan ringan. Untuk itu, setidaknya ada empat hal mendasar yang perlu dilakukan orang tua sebagai acuan awal dalam rangka menyalakan kembali potensi mulia yang dimliki anak-anak:

1. Pancing Kreativitas Anak

Pancinglah kreativitas anak-anak untuk bertanya, terutama pertanyaan yang fundamental (mendasar), misalnya menyangkut alam raya, Tuhan, pribadi dirinya sendiri, tentang cinta, keadilan, kebijaksanaan dan lain-lain. Pertanyaan sekecil apapun yang dilontarkan mereka, tetap memerlukan jawaban yang bijaksana sehingga bisa merangsang pertanyaan selanjutnya yang lebih fundamental. Ini merupakan awal dari berkembangnya SQ. Sebab kata F.R. Paul dalam buku “Spiritual Intelligence Hand Book” (2001), SQ is not a “question” but is a “quest”. It is the process of thinking and living.

2. Dengarkan Anak dengan Penuh Cinta dan Kasih Sayang

Dengan mendengarkan mereka dengan penuh cinta, mereka akan bebas mengekspresikan perasaan, khayalan dan perspektifnya. Anak-anak akan lebih merasa bebas untuk membagi pemikiran dan pengalaman hidupnya hanya ketika mereka berada dalam lingkungan yang menerimanya. Dengarkan mereka seolah-olah mereka seorang pahlawan dan jadilah orang tua yang bisa dipercaya anak-anak untuk mengungkapkan perasaannya. Karena pada dasarnya, anak-anak memiliki perasaan mendalam seperti layaknya orang dewasa, tetapi mereka belum mempunyai perbendaharaan kata yang cukup untuk mengungkapnya. Dengan menghormati perasaan mereka, berarti kita menghormati jiwa mereka.

3. Berikan Makna

Memberikan ‘makna’ pada aktivitas keagamaan yang bisa disaksikan, dilakukan, dirasakan dan dialami secara langsung oleh anak-anak. Dari sinilah diharapkan, potensi spiritualitas yang dimiliki anak-anak akan kembali bersinar dan selanjutnya akan melahirkan semacam kesadaran diri pada diri mereka sebagai kriteria tertinggi dari SQ. Kesadaran diri yang selanjutnya akan menjadi parameter untuk melihat kehidupan secara lebih luas dalam kesatuan yang utuh serta lebih kaya dan bermakna. Setelah itu akan terjadi hubungan yang baik antara “diri” yang material dan “diri” yang spiritual.

4. Hadirkan Keberadaan Tuhan

Mencoba menghadirkan keberadaan Tuhan pada anak-anak pada saat “menyebut nama-Nya” , berdoa, dan dalam aktivitas yang lain. Bisa jadi pada awalnya Tuhan bagi anak-anak kita bisa saja hanya merupakan “kabar dari keluh” tetapi dengan latihan yang disertai ketekunan, maka seorang anak pada akhirnya akan merasakan bahwa dia memang membutuhkan Tuhan sebagai sumber kekuatan. Sehingga akan tercipta semacam relasi spiritual antara dirinya dan Tuhan. Saat itulah, dia akan terhindar sejauh-jauhnya dari segala bentuk kegelisahan, keterasingan, keputus asaan dan krisis diri yang lain, karena merasakan Sang Maha Kasih berada sangat dekat dengan dirinya, melindunginya dan memberinya energi dan kekuatan.

Akhirnya, sepertinya tidak ada panggilan yang lebih luhur daripada panggilan menjadi orang tua yang membimbing anak mereka dengan penuh kasih sayang sesuai dengan arah tujuan jiwanya. Dan semua ini tentu butuh waktu, kesabaran dan doa.

Sumber Info : INSPIRASI MENDIDIK ANAK, http://www.facebook.com/note.php?note_id=238468586171360&comments